Jeritan hati,
jeritan semenanjung hati
puncak jiwa dimadu oleh serbuk cintaMu
dan kasih sayangMu, mengarungi tiap
sudut
batinku mendengkur, mengucap namaMu.
Jeritan hati,
uraikan kisah cinta antara Kau dan aku,
uraian air mata menyongsong cahaya
kasih sayangMu
mendekap hampa pada tiang nan rapuh
jenuh menyisipkan kepiluan
untuk segera menemuiMu.
Jeritan hati,
menelusuri tiap kekosongan duniaMu
kekuasaanMu nan megah ini,
sendiri memadu kisah hanya cinta dan
kasih sayangMu
yang mampu membuat batin ini merengkuh
hidup
untuk meneruskan hidup
menyenangkan sang hati,
sang ruh, sang cahayaMu
walau hanya secuil
aku mampu menyinariNya.
Jeritan hati,
sejati membual bersama makhluk
ciptaanMu
pecundangi ciptaan-ciptaanMu
demi sebuah kesenangan, kehancuran
kesombongan yang tiada henti
terus dan menerus menusuk jantung
cahayaMu
Jeritan hati,
masihkah Engkau peduli dengan semua,
masihkah Engkau memberi kesempatan atas
semua ini,
masihkah semua ini menjadi yang diujung
para prajurit perang
atau sudah menjadi bahan cemoohan . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar