Senin, 04 Juni 2012

Suku Alas


Sejarah dan Seni Budaya Etnis Alas atau disebut juga denganokhang Alas atau khang Alas atau Kalak Alas telah bermukim di lembah Alas atau Bumi Sepakat Segenep jauh sebelum Pemerintah Kolonial Belanda masuk ke Indonesia, keadaan penduduk lembah Alas telah diabadikan dalam sebuah buku yang dikarang oleh seorang bangsa Belanda bernama Radermacher (1781:8), bila dilihat dari catatan sejarah masuknya Islam ke Tanah Alas, pada tahun 1325 (Effendy, 1960:26) maka jelas penduduk ini sudah ada walaupun masih bersifat nomaden dengan menganut kepercayaan animisme.
Nama Alas diperuntukan bagi sebuah Suku atau kelompok etnis di Indonesia, sedangkan Lembah Alas disebut dengan kata Tanoh Alas (Tanah Alas). Menurut Kreemer (1922:64) kata “Alas” berasal dari nama seorang kepala etnis (cucu dari Raja Lambing), beliau bermukim di desa paling tua di Tanoh Alas yaitu Desa Batu Mbulan.
Menurut Iwabuchi (1994:10) Raja yang pertama kali bermukim di Tanoh Alas adalah terdapat di Desa Batu Mbulan yang dikenal dengan nama "Raja Lambing" yaitu keturunan dari "Raja Lontung" atau dikenal dengan cucu dari "Guru Tatae Bulan" dari Samosir Tanah Batak, Tatae Bulan adalah saudara kandung dari "Raja Sumba". 
Guru Tatae Bulan mempunyai lima orang anak, yaitu:
  1. Raja Uti, 
  1. Saribu Raja, 
  1. Limbong, 
  1. Sagala, dan 
  1. Silau Raja. 
Saribu Raja adalah merupakan orang tuanya Raja Borbor dan Raja Lontung. Raja Lontung mempuyai tujuh orang anak yaitu, Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Aritonang, dan Siregar atau yang dikenal dengan siampudan atau payampulan. Pandiangan merupakan moyangnya Pande, Suhut Nihuta, Gultom, Samosir, Harianja, Pakpahan, Sitinjak, Solin di Dairi, Sebayang di Tanah Karo, dan SELIAN di Tanah Alas, Keluet di Aceh Selatan.
Raja Lambing adalah moyang dari merga Sebayang di Tanah Karo dan Selian di Tanah Alas. Raja Lambing merupakan anak yang paling bungsu dari tiga bersaudara yaitu abangnya tertua adalah Raja Patuha di Dairi, dan nomor dua adalah Raja Enggang yang hijrah ke Kluet Aceh Selatan, keturunan dan pengikutnya adalah merga Pinem atauPinim.
Kemudian Raja Lambing hijrah ke Tanah Karo dimana keturunan dan pengikutnya adalah merga Sebayang dengan wilayah dari Tigabinanga hingga ke perbesi dan Gugung Kabupaten Karo.
Diperkirakan pada abad ke 12 Raja Lambing hijrah dari Tanah Karo ke Tanah Alas, dan bermukim di Desa Batumbulan, keturunan dan pengikutnya adalah merga Selian. Di Tanah Alas Raja Lambing mempunyai tiga orang anak yaitu:
  • Raja Lelo (Raje Lele) keturunan dan pengikutnya ada di Ngkeran, 
  • Raja Adeh yang merupakan moyangnya dan pengikutnya orang Kertan,
  • Raje Kaye yang keturunannya bermukim di Batumbulan, termasuk Bathin.
Keturuan Raje Lambing di Tanah Alas hingga tahun 2000, telah mempuyai keturunan ke 26 yang bermukim tersebar diwilayah Tanah Alas (Effendy, 1960:36; sebayang 1986:17).
Setelah Raja Lambing kemudian menyusul Raja Dewa yang istrinya merupakan putri dari Raja Lambing. Raja Lambing menyerahkan tampuk kepemimpinan Raja kepada Raja Dewa (menantunya). Yang dikenal dengan nama Malik Ibrahim, yaitu pembawa ajaran Islam yang termashur ke Tanah Alas. Bukti situs sejarah ini masih terdapat di Muara Lawe Sikap, desa Batumbulan. Malik Ibrahim mempunyai satu orang putera yang diberinama ALAS dan hingga tahun 2000 telah mempunyai keturunan ke 27 yang bermukim di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara, Banda Aceh, Medan, Malaysia dan tempat lainnya.
Ada hal yang menarik perhatian kesepakatan antara putera Raja Lambing (Raja Adeh, Raja Kaye, dan Raje Lele) dengan putra Raja Dewa (Raja Alas) bahwa syi’ar Islam yang dibawa oleh Raja Dewa diterima oleh seluruh kalangan masyarakat Alas, tetapi adat istiadat yang dipunyai oleh Raja Lambing tetap di pakai bersama, ringkasnya hidup dikandung adat mati dikandung hukum (Islam) oleh sebab itu jelas bahwa asimilasi antara adat istiadat dengan kebudayaan suku Alas telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.
Pada awal kedatanganya Malik Ibrahim migrasi melalui pesisir bagian timur (Pasai) sebelum ada kesepakatan diatas, ia masih memegang budaya matrealistik dari minang kabau, sehingga puteranya Raja Alas sebagai pewaris kerajaan mengikuti garis keturunan dan merga pihak ibu yaitu Selian. Setelah Raja Alas menerima asimilasi dari Raja Lambing dengan ajaran Islam, maka sejak itulah mulai menetap keturunannya menetap garis keturunannya mengikuti garis Ayah. Raja Alas juga dikenal sebagai pewaris kerajaan, karena banyaknya harta warisan yang diwariskan oleh ayah dan kakeknya sejak itulah dikenal dengan sebutan Tanoh Alas
Setelah kehadiran Selian di Batumbulan, muncul lagi kerajaan lain yang di kenal dengan Sekedang yang basis wilayahnya meliputi Bambel hingga ke Lawe Sumur. Raja sekedang menurut beberapa informasi pada awal kehadiranya di Tanah Alas adalah untuk mencari orang tuanya yaitu Raja Dewa yang migran ke Tanah Alas. RajaSekedang yang merupakan pertama sekali datang ke Tanah Alas diperkirakan ada pertengahan abad ke 13 yang lalu yaitu bernama Nazarudin yang dikenal dengan panggilan Datuk Rambut yang datang dari Pasai.
Pendatang berikutnya semasa Raja Alas yaitu kelompok Megit Ali dari Aceh pesisir dan keturunannya berkembang di Biak Muli yang dikenal dengan merga Beruh. Lalu terjadi migran berikutnya yang membentuk beberapa marga, namun mereka tetap merupakan pemekaran dari Batumbulan, penduduk Batumbulan mempuyai beberapa kelompok atau merga yang meliputi Pale Dese yang bermukim di bagian barat laut Batumbulan yaitu terutung pedi, lalu hadir kelompok Selian, datang kelompok Sinaga, Keruas dan Pagan disamping itu bergabung lagi marga MunthePinim dan Karo-Karo.
Marga Pale Dese merupakan penduduk yang pertama sekali menduduki Tanah Alas, namun tidak punya kerajaan yang tercatat dalam sejarah. Kemudian hadir pula Deskiyang bermukim di kampong ujung barat.
Marga (klanatau MekhgeMenurut buku (Sanksi dan Denda Tindak Pidana Adat Alas, Dr Thalib Akbar MSC 2004) adapun marga–marga etnis Alas yaitu : Bangko, Deski, Keling, Kepale Dese, Keruas, Pagan, dan Selian kemudian hadir lagi marga Acih, Beruh, Gale, Kekaro, Mahe, Menalu, Mencawan, Munthe, Pase, Pelis, Pinim, Ramin, Ramud, Sambo, Sekedang, Sugihen, Sepayung, Sebayang dan marga Terigan.
BudayaAdapun kesenian dari etnis suku Alas (Hasil Musyawarah Adat Alas dan Gayo, 2003) :
  1. Pelebat
  1. Mesekat
  1. Landok Alun
  1. Vokal Suku Alas
  1. Canang Situ
  1. Canang Buluh
  1. Genggong
  1. Oloi-olio
  1. Keketuk layakh

KerajinanAdapun kerajinan tradisional dari etnis alas seperti :
  1. Nemet (mengayam daun rumbia)
  1. Mbayu amak (tikar pandan)
  1. Bordir pakaian adat
  1. Pande besi (pisau bekhemu)
  1. dan lain-lain

Makanan TradisionalAdapun makanan tradisional dari suku alas adalah :
  1. Manuk labakh. .
  1. Ikan labakh.
  1. Puket Megaukh.
  1. Lepat bekhas.
  1. Gelame.
  1. Puket Megaluh
  1. Buah Khum-khum
  1. Ikan pacik kule.
  1. Teukh Mandi
  1. Puket mekuah.
  1. Tumpi.

Kamis, 31 Mei 2012

Suku Aceh


Suku Aceh
Suku Aceh adalah nama sebuah suku yang mendiami ujung utara Sumatra. Mereka beragama Islam. Bahasa yang dipertuturkan oleh mereka adalah bahasa Aceh yang masih berkerabat dengan bahasa Mon Khmer (wilayah Champa). Bahasa Aceh merupakan bagian dari bahasa Melayu-Polynesia barat, cabang dari keluarga bahasa Austronesia.

Suku Aceh memiliki sejarah panjang tentang kegemilangan sebuah kerajaan Islam hingga perjuangan atas penaklukan kolonial Hindia Belanda.

Banyak dari budaya Aceh yang menyerap budaya Hindu India, dimana kosakata bahasa Aceh banyak yang berbahasa Sanskerta. Suku Aceh merupakan suku di Indonesia yang pertama memeluk agama Islam dan mendirikan kerajaan Islam. Masyarakat Aceh mayoritas bekerja sebagai petani, pekerja tambang, dan nelayan.

Sejarah
Penduduk Aceh merupakan keturunan berbagai suku, kaum, dan bangsa. Leluhur orang Aceh berasal dari Semenanjung Malaysia, Cham, Cochin, Kamboja.

Di samping itu banyak pula keturunan bangsa asing di tanah Aceh, bangsa Arab dan India dikenal erat hubungannya pasca penyebaran agama Islam di tanah Aceh. Bangsa Arab yang datang ke Aceh banyak yang berasal dari provinsi Hadramaut (Negeri Yaman), dibuktikan dengan marga-marga mereka al-Aydrus, al-Habsyi, al-Attas, al-Kathiri, Badjubier, Sungkar, Bawazier dan lain lain, yang semuanya merupakan marga marga bangsa Arab asal Yaman. Mereka datang sebagai ulama dan berdagang. Saat ini banyak dari mereka yang sudah kawin campur dengan penduduk asli Aceh, dan menghilangkan nama marganya.

Sedangkan bangsa India kebanyakan dari Gujarat dan Tamil. Dapat dibuktikan dengan penampilan wajah bangsa Aceh, serta variasi makanan (kari), dan juga warisan kebudayaan Hindu Tua (nama-nama desa yang diambil dari bahasa Hindi, contoh: Indra Puri). Keturunan India dapat ditemukan tersebar di seluruh Aceh. Karena letak geografis yang berdekatan maka keturunan India cukup dominan di Aceh.

Pedagang pedagang Tiongkok juga pernah memiliki hubungan yang erat dengan bangsa Aceh, dibuktikan dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho, yang pernah singgah dan menghadiahi Aceh dengan sebuah lonceng besar, yang sekarang dikenal dengan nama Lonceng Cakra Donya, tersimpan di Banda Aceh. Semenjak saat itu hubungan dagang antara Aceh dan Tiongkok cukup mesra, dan pelaut-pelaut Tiongkok pun menjadikan Aceh sebagai pelabuhan transit utama sebelum melanjutkan pelayarannya ke Eropa.


Selain itu juga banyak keturunan bangsa Persia (Iran/Afghan) dan Turki, mereka pernah datang atas undangan Kerajaan Aceh untuk menjadi ulama, pedagang senjata, pelatih prajurit dan serdadu perang kerajaan Aceh, dan saat ini keturunan keturunan mereka kebanyakan tersebar di wilayah Aceh Besar. Hingga saat ini bangsa Aceh sangat menyukai nama-nama warisan Persia dan Turki. Bahkan sebutan Banda, dalam nama kota Banda Aceh pun adalah warisan bangsa Persia (Bandar arti: pelabuhan).
Di samping itu ada pula keturunan bangsa Portugis, di wilayah Kuala Daya, Lam No (pesisir barat Aceh). Mereka adalah keturunan dari pelaut-pelaut Portugis di bawah pimpinan nakhoda Kapten Pinto, yang berlayar hendak menuju Malaka (Malaysia), dan sempat singgah dan berdagang di wilayah Lam No, dan sebagian besar di antara mereka tetap tinggal dan menetap di Lam No. Sejarah mencatat peristiwa ini terjadi antara tahun 1492-1511, pada saat itu Lam No di bawah kekuasaan kerajaan kecil Lam No, pimpinan Raja Meureuhom Daya. Hingga saat ini masih dapat dilihat keturunan mereka yang masih memiliki profil wajah Eropa yang masih kental.

Tarian
Tari Ranup Lampuan
Tari Seudati
Tari Rateb Meuseukat
Tari Likok Pulo

Bahasa
Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Aceh

Makanan Khas
Kuah Masam Keu'eueng
Kuah Pliëk u
Kuah Beulangong
Kuah Lada
Kuah Sie Kamèng
Masak Mirah
Masak Puteh
Mie Aceh
Keumamah
Bu Guri
Bu Leumak
Sie Reuboh

Kue-kue dan Kudapan
Keukarah
Timphan
Meuseukat
Halua
Cingkhuy (kue khas Lam No)
Kuwéh Seupét
Kuwah Tuhe
Kanji Rumbi
Boh Usen
Bhoi
Sagon
Dodoi (dodol)
Dughok/Lughok
Apam
Pulot
Seulincah Aceh (rujak Aceh)
Adè
Apam
Boh Rom-rom

Tokoh
Badruddin Amiruldin
Cik Di Tiro
Cut Nyak Dhien
Cut Nyak Meutia
Daud Beureu'eh
Hasan Tiro
Ismail al-Asyi
Mohamad Kasim Arifin
P.Ramlee atau Teuku Zakaria Teuku Nyak Puteh
Panglima Polem
Sultan Iskandar Muda
Tan Sri Sanusi Juned
Teuku Mohammad Hasan
Teuku Nyak Arief
Teuku Umar

Senin, 28 Mei 2012

Jangan Letih Memberi Maaf


merindumu bagai suasana keheningan
yang mengalir begitu saja
jatuh bangun hanya diriMu yang terkenang
dalam benak fikir dan hati
yang selalu saja menjerumuskan diri dalam kemurkaanMu.

merasa Engkau kasihi adalah hal terbaik,
dan paling sombong yang bisa menyejukkan kehancuran jiwaku
walaupun mungkin disana Engkau punya rencana lain,
toh hanya Kau yang aku perdulikan
bukan lain-lain yang Kau ciptakan.

sulitkah untuk orang-orang mengertikan semua itu?
aku mendapat cibiran akan penghambaanku kepadaMu,
tapi mungkin mereka benar juga,
toh aku masih selalu mengingkari janji-janjiku padaMu.

sehingga Engkaupun, Maha Pengampun
masih ragu akan rinduku kepadaMu.

Ilmu (3)


terdapat ilmu,
dimana hanya seorang itu yang mampu memahami
dan bagaimana untuk menerapkanya
namun juga mereka masih bingung
mencari prinsip yang layak
dijadikan acuan
dan guru seumur mereka menampung ilmu itu.

entah dari Tuhan atau menemukanya di jalanan,
karena ilmunya cukup terurai tak rapi
semrawut merekah hampa
ditalang meneduh untuk kemesraan sementara.

Ilmu, Jeritan Hati (2)


Jeritan hati,
kubangan air tawar
menawarkan rahasia air
yang memiliki rasa, tawar
namun tidak akan tawar lagi pabila
air itu keluar dari sarangnya,
layaknya ilmu yang hanya secuil diambil, demi secuil diambil
dan tidak mengambil saripatinya
langsung dari sarangnya.

SeruanMu


seruMu jelas terdengar oleh telinga-telinga ciptaanMu
nyiur, nyaring terdengar
petirpun tak ku dengar ketika menangkap seruan-seruanMu itu

terekam keindahanya
jelas dalam batin, menyejukkan hati
terkoyak kemurkaan jiwa yang menggrogoti.

tiada makhluk lain yang mampu hanya untuk meniru
meskipun hanya sebutir darinya,
sungguh murni,
karena memang Engkaulah Maha Sempurna.

namun semua itu sirna
kala hatiku tak lagi khusyu' memperdengarkanMu,
sangking lalainya
sangking bodohnya aku sebagai makhluk unggulanMu

tolong, janganlah memberi kemudahan apapun,
bersikaplah seperti biasa,
seperti biasa aku Engkau buat tersedu dalam renungan malam
seperti biasa aku mendapat murkaMu.

Ilmu (1)


terdapat ilmu,
dimana hanya seorang itu yang mampu memahami
dan bagaimana untuk menerapkanya
namun juga mereka masih bingung
mencari prinsip yang layak
dijadikan acuan
dan guru seumur mereka menampung ilmu itu.

entah dari Tuhan atau menemukanya di jalanan,
karena ilmunya cukup terurai tak rapi
semrawut merekah hampa
ditalang meneduh untuk kemesraan sementara.

Untitled


maaf,
aku selalu melupakanMu
ketika dunia sedang menunjukkan keindahanya
aku tahu itu adalah Engkau
yang sedang menunjukkan kasih sayangMu,
ingin melihat betapa aku menyayangiMu,
ketahuilah,
aku manusia biasa
yang selalu luput dari penciptanya
bahkan ketika mendapat pengasihan yang sebenarnya.

entah ketenangan seperti apalagi
keharmonisan rupa siapa lagi
yang aku butuhkan
untuk terus dan menerus mengenangMu,
mengingatMu.

selalu ada tumpahan murka yang aku lihat dariku,
melilit kemesraanku ketika mengingatMu,
ketika bercengkrama asik denganMu.

Kesempatan


Sudikah kau jemput aku dalam kelamku
Masihkah engkau berkenan untuk menatapku
Benarkah kau masih mampu beri suasana seperti dahulu
Aku merindukanmu
Kau telah aku beri goresan yang tak mungkin hilang
Maafkanlah aku
Kembalilah untukku
Kembalilah untuk kebersamaan kita lagi
Untuk meluruskan apa yang telah membelok
Aku masih mampu
Begitu pula dirimu
Kita mampu lakukan semua yang kita ingin saat bersama
Berilah aku kesempatan untuk mengulang semua kebahagiaan itu

Jeritan Hati


Jeritan hati,
jeritan semenanjung hati
puncak jiwa dimadu oleh serbuk cintaMu
dan kasih sayangMu, mengarungi tiap sudut
batinku mendengkur, mengucap namaMu.

Jeritan hati,
uraikan kisah cinta antara Kau dan aku,
uraian air mata menyongsong cahaya kasih sayangMu
mendekap hampa pada tiang nan rapuh
jenuh menyisipkan kepiluan
untuk segera menemuiMu.

Jeritan hati,
menelusuri tiap kekosongan duniaMu
kekuasaanMu nan megah ini,
sendiri memadu kisah hanya cinta dan kasih sayangMu
yang mampu membuat batin ini merengkuh hidup
untuk meneruskan hidup
menyenangkan sang hati,
sang ruh, sang cahayaMu
walau hanya secuil
aku mampu menyinariNya.

Jeritan hati,
sejati membual bersama makhluk ciptaanMu
pecundangi ciptaan-ciptaanMu
demi sebuah kesenangan, kehancuran
kesombongan yang tiada henti
terus dan menerus menusuk jantung cahayaMu

Jeritan hati,
masihkah Engkau peduli dengan semua,
masihkah Engkau memberi kesempatan atas semua ini,
masihkah semua ini menjadi yang diujung para prajurit perang
atau sudah menjadi bahan cemoohan . . .

KeberadaanMu


seandainya aku mampu meneguk cinta suciMu
mungkin sekarang juga aku tidak akan seperti saat ini,
aku terkapar tak bias dengan kebiasaan-kebiasaan ini
dimana diriMu susah untuk aku temui,
namun banyak waktu pula aku mampu menemuiMu
mungkinkah itu diriMu?
aku selalu bertanya seperti itu.

Engkau sangat pandai dalam berpura
menggunakan wajah wajah makhluk ciptaanMu sendiri
hanya untuk menyapaku.

Engkau terdapat dimana-mana aku berpijar,
langit dan bumi adalah kekuasaanMu,
tiadalah aku berkutik ketika sadar akan hal itu
dan aku selalu sadar bahwasanya diriMu ada
dimana-mana . .

Kepada YTH


beritahukan kepada mereka
yang selalu mengusik fikiranmu,
bahwasanya manusia tidak lekang dari
sifat depresi yang melulu-lantakkan
mara jiwa dan raga yang sesungguhnya
sudah terlalu pilu untuk sebuah terpaan angin sepoi saja.

berikan peringatan tegas kepada penguasa mereka
bahwasanya udara yang dihirup hanyalah
yang dimiliki sebagai aktivitas keseharian,
untuk menyambung nyawa
dan itupun tidak ada dosa sama sekali.

beritahukan kepada prajurit-prajuritnya untuk membunuh kami
hanya pada saat kelakuan kami
membuat bumi pertiwi menangis
dan ciptaanNya merengkuh pilu
dalam kesepian nan tiada yang menyuguh canda.

berikan peringatan tegas kepada jenis-jenis kita semua,
ketika kita hidup di dunia tidak lagi sendiri
dan banyak lain yang membuat gaduh disekitarmu,
janganlah menggonggong anjing kelaparan, tak beradab.

lihatlah pergulatan masing-masing dalam mengarung lautan dunia fana ini,
penuh krikil, tinta hitam berserakan disetiap pojok kota kota berjulang menara.

Kekasihku


kekasih yang selalu menjadi dambaanku
adalah dia
yang mampu mengertikan redup nampak kesenanganku
dan kesedihan yang tak henti menyelimuti
yang mampu aku duakan ketika aku ingin,
dan aku ingin selalu menduakan pasangan ketika
makhluk lain menjadi pendampingku,

dia berwajahkan sedu ketika senang
dan riang ketika sedih menghantam,
memberi segala kenikmatan yang ada
menampung keluh kesa yang berupa maupun tidak.

bagai surya yang tak henti bersinar, walaupun malam menjemput
tak hentinya ia akan terus memperhatikan setiap rinduku
setiap kasih sayang dan kesetiaan yang aku berikan,
walaupun kalimat tak lagi mampu dipergunakan untuk menjelma
menjadi puisi sanjungan.

menggeliat mesra ketika bercinta,
cumbu setiap hendusan cintaku yang tersirat disetiap gerakku,
nafasku, dan hidupku.

berkobar ketika aku terperanjat oleh cibiran,
menantang sang maut ketika jurang neraka menghampiri,
karena hanya kepadaNya ia ingin bertemu
dan bukan karena ttakut akan neraka jahanam ia ingin mencari ridhoNya.

ia yang senantiasa sabar ketika waktu
tak lagi cukup untuk aku berikan ketika aku sedang asyik mendua,
tiada dengki maupun amarah sedikitpun
ketika aku terlalu lelah memperhatikanya,
tiada sombong maupun iri

karena hanya kepadaNya,
sang pencipta dari kekasih itu
yang aku inginkan

Kerendahan Hati kah


Jeritan hati,
merintih kesal
atas semua yang terjadi
karena terlalu pilu untuk dihadapi
dan hanya Engkau
entah siapa Engkau dan
tak tahu pula di mana Engkau
yang aku miliki.

Andaikan jeritan hati ini Engkau dengar,
pastilah, mungkin
Engkau sudi untuk semenit saja menghirauku
namun Engkau tampak acuh denganku, tidak
terkadang sulit untuk meminta maaf
ketahuilah,
cintamu terlalu dalam
dan aku hanya ciptaanMu
semata wayang terjerumus
dalam kelabu petang nan sunyi dunia ciptaanMu ini.

Jeritan hati,
kerendehan hati yang seperti apa
yang bisa meluluhkan hatiMu,
karena sekarang aku tidak yakin ada kerendahan hati
yang bisa melebihi semua ini,
dan aku hanya manusia ciptaanMu
yang payah serapah kesusahan
hanya untuk mencuri
sedetik saja, seuntai bungan lily dalam mimpi

semoga aku salah,
dan Engkau akan sudi untuk turun tangan memberiku
sejenak waktu untuk memandangi cahayaMu.

Kidung Manusia


kidung pergulatan hari-hari
yang semakin melelahkan,
telah melulu-lantakkan saja kobaran
jiwa dan raga yang berbuas siap menerka
kemanapun angin membawa.

fikiran tak bisa terkonsentrasi kepada satu tujuan,
terlihat kabur tak jelas
samar, membendung harapan besar.

bukan tidak memiliki tujuan mauupun prinsip dalam hidup, hanya
terlalu banyak ilmu yang sudah termakan,
sehingga meleburkan sebuah keinginan
untuk berhijrah kepada lainya
dan hanya bertutur pada diri.

harapan besar itu adalah
sampai kepada tujuan hidup, sebenarnya
yang terniang dalam benak mereka itu apa
sehingga nampak malaikat baik baik saja, yang melekat
disampingya . .

cukup melelahkan, berjuang demi sesuatu yang besar
namun tak seorangpun bisa dan mampu
mengerti,
ah semua manusia sejujurnya tak bisa saling mengerti . .
kan?

Lalu Aku Akan Pergi


tidak terbayangkan kalau kalau
reruntuhan puing puing tangismu menindih
padaku, sayang . .

sudah lama kita bercinta dengan kebohongan ini,
tiada yang benar dalam hubungan ini,
semua hanya kosong,
tak terkira juga kalau saja
tangismu membuatku jenuh dengan kebohongan ini.

bersandarla disisiku, entah sampai kapan
pundak ini mampu menampung keluh
kesahmu
yang selalu kau ungsikan dalam gerah tangis itu.

sejak kapan pula
engkau mulai membelai kasih yang aku beri selama ini,
aku kira dirimu tak pelaknya dari penucri,
pembohong pecundang rasa.

biarkan kucumbu kening mungilmu itu,sayang,
sebentar
sejenak
lalu aku akan mengertikanmu
dan membelai kasih bersama, bukan
duniamu
tapi gemuruh malu semilir syahdu ini . .