Minggu, 20 Maret 2011

deep down your excessive words,
inside your bullshit thoughts,
beneath your strength,
lies a number of sins you should have erased


you've satisfied by the journey of your sinful roads
you've walked through the flame of deaf deeds
you've dream parts of those boastful sounds
manners . . .
reactions . . .
cause . .
effects . .


all gathered in one pack of your unprepared plans

Sabtu, 19 Maret 2011

I won't be gone for long 'till you have your last breath
sorry but,
things are not set up like now
everything seems to fade away,
perishing away from us
me,
I don't know you but I always try to seek your true feeling
you've always been the one,
you've always been trying to set me out of this complication confusions

everything was just not worth it
everything was just not the part where we should have been at
perubahan signifikan terlalu kejam untuk membuat sebuah perubahan
tak terukur berapa besar dan dalamnya,
namun terasa betapa tidak nyaman hati bersenda denganya
berjuta kali terungkap tiada hati bisa berlabuh tanpa rasa sayang
berjuta kali jalanan telah menjadi himpitan mengarungi indahnya dunia
berjuta kali tertatih jatuh tak mampu temukan dermaga hati
tak seorangpun mengerti betapa tersiksa hati
tanpa hadirnya,
entah harus menjadi apa
tertiup udara sepoi,
terpecah,
berai menjadi tak tampak untuk dirasakan . . .

Selasa, 15 Maret 2011

Teriakan jiwanya luluh lantak hancurkan kebiadaban dunia
Tuhan menjadi sasaran empuk untuknya disalahkan
Tak lagi bisa dipercaya,
menjadi alasannya untuk memberontak
Tulisan-tulisan surat dikirimnya lewat malaikat-malaikatNya
Kicau burung tak lagi indah seperti biasanya,
mereka berubah seketika menangisi rintikan kelamnya hidup

merintih ia menyusuri sudut kehidupanya
rintihan tangis tak kunjung berhenti
terus menerus tuangkan kepedihan tiada dasar
Tuhan . . .
seberapa besarkah kamu sampai berani mejilat piluku
aku kira kamu tidak sudi untuk hanya menengokku
dalam kerapuhan mengharap dunia bisa bersahabat ini kau terkutuk
tak lagi aku bisa menjemputmu di gerhana bulan
kamu terlalu kotor untuk hanya aku pandang
tangnmu rakus,
matamu teriakan kemusnahan,
kakimu terlalu licik untuk melangkah kepadaku

sudah tertepati semua inginmu namun . . .

ah kasihku . ..
dekapmu semakin hilang di kesenyapan malam
tertegun saat mengingat betapa hangatnya pelukmu saat itu
namun sekarang,
pelukmu bagai duri merobek tiap sudut dari memori-memori indah itu

abaianmu tak kan pernah bisa terbalaskan dengan tulusku
sayangmu hanya akan menjadi kenangan burukku
tulusmu hanya akan menjadi luka membekas tak mungkin hilang

merindumu hanya akan membawaku kepada jurang keangkuhan
puing tangismu tak lagi tersisa untukku sembuhkan
entah mengapa begitu cepat,
hanya Tuhan Yang Maha Tahu atas segala kebiadaban kita


sadar akan bahaya yang akan menebas pasukan,
hanya pedang serabut kita siapkan untuk membunuh
tiada bunyi nan sepoi daripada suara anggunmu


pergilah engkau kepadanya
usah kau teriakan namaku lagi
curilah hatiku saat ajal menjemputku
ambilah sebilah luka yang telah aku pikul untukmu


rebahkan jiwaku diatas kebahagiaan hati . .
kelak . .. 
dan sampai kau mati
setiap mulut mengutarakan kemelut hati,
setiap kemelut hati terungkap,
setiap ungkapan selalu mendapat cercaan,
setiap olokan mengandung rasa cinta,
setiap kasih dan sayang selalu menghadapkan kita pada pilihan nan tak mudah,


setiap alur jalan hidup tidak lagi merata,
mungkin ingin sekali untuk mengakhiri semua kenyataan
ingin membuat dunia sendiri dan hidup sendiri . . ?


semuanya terlalu pada titik dimana jurang menyapa
tidak ada kesempatan kedua,
hanya ketegasan hati yang menjadi jalan keluar . ..

Minggu, 13 Maret 2011

never thought you seem very cheerful when this hearts blown away
I thought you were special
so special that I've forgotten my own strength
I've always been running for the sake of your safety
but you always try to envy me
I envy you . . !
I am trying to make a salvation . . !
a fucking true salvation . . !

your pity doesn't effect on me, no, no more
your hands wouldn't be as warm as before
your grace would be a time where this soul couldn't love you no more
your kiss will never again be tastes as soft as those times you've given to me

dear,
if you would just listen to my words,
my sadness words . . !
wouldn't you think all this mess will just be disappear . .
gone by the wind
perishing 'till its very sins . . .
take those fucking tears into your guts
you've always been acting like a bitch when I envy you
you don't give a shit when these tears run in front of your own eyes
those tears seek for the truth
truth,
where your pure heart lays
swear it contains everything you are
and guess what, bitch . .
past don't let go of me
you'll just be the madness machine of my past
you'll just be the sadness moments of my lifetime
you'll just be the failure of my age
in the end,
your love wouldn't even spare a second with me
taken all my loves
left with nothing but soreness
tired of your stupid tricks
just can't hold on to your words no more . . . no . . !

you wouldn't even listen to my words I've spoken
your words envy yourself and you're just too ashamed to admit them

you're just the greatest beautiful failure of my love story . . .

Jumat, 11 Maret 2011

Kedipmu silaukan parasmu,
pancarkan keindahan dunia,
membuka rahasia indahnya dunia
Kerutnya senyumu hanya akan menjadi bumbu cintaku yang tersendiri kepadamu
Tak perlu meragukan kesetiaan ini,
akan selalu menjunjung tinggi perasaanmu
Sampai tiba waktu kita berpisah,
hari-harimu tak kan pernah terlepas dari pandangku

Sampai kamu menemukan pelabuhan hati yang lebih tulus,
sampai itu pula aku akan menemani perjalananmu

Entah apa yang terjadi padamu,
namun sesuatu telah berubah,
memaksaku untuk memutar balik arah petualangan ini
Tekanan jantung kian cepat memberi sinyal seakan aku memang benar
Ah . .. .
yang terjadi bukanlah usapan mulut belaka
terbengkalailah siapapun yang bersedia bersamamu
hancurlah mereka yang berusaha mendapatkanmu
suramlah dia yang kamu cari-cari . ..
Ketika dalam usaha pencarianya,
Terdapat banyak rintangan mengganggunya
Cobaan tak kunjung reda memaksanya untuk bersabar lebih lama,
padahal ia bukan seorang yang suka menunggu
Hmmmm . ..
Terjalnya jalanan semakin membuatnya terdesak
Batu-batuan terlalu menggila saat dilalui,
menancapkan ujung-ujungnya nan tajam ketiap sudut kakinya nan lemah
Tidakkah ia sadar bahwasanya ia sedang dalam bahaya?
Mungkin ia hampir pingsan sehingga tidak merasakan sakit
Berlalu dalam kesunyian gelapnya hidup
Ia tak memiliki lampu yang cukup besar untuk dijadikan penerang
Kelipnya lampu pun menjadi suasana tersendiri menemani kesepianya,
mungkin kelipnya malah membuat hati berguncang merusak ketenangan hati
Tak lagi mampu berfikir jernih,
ia mencoba memahami sebentar tujuanya kemari

Gua nan gelap tiada penerangan yang berarti
Jalanan nan terlalu terjal untuk dilewati,
Hanya karena keinginan yang menggebu, 
ia singkirkan semua kerugianya
terjebak,
hanyut,
penuh dengan kerapuhan sekarang hingga nanti adalah teman paling sejatinya
musnahlah nyawanya ditelan waktu

Selasa, 08 Maret 2011

Ketika keinginan mulai menunjukkan tanda-tanda kemunculanya,
tumbuh perasaan tak mampu menanmpungnya
Ketika perubahan mulai menampakkan batang hidungnya,
tumbuh hati yang bercampur dengan warna-warna kelam


Setiap jeratan selalu meninggalkan jejaknya
Setiap jeratan selalu menunjukkan betapa ia mampu melumpuhkanmu


terurai wajahnya menjadi beberapa bagian kala terjepit dalam keraguan
beban nan tak sanggup ia angkat,
terbengkalai,
rusak,
bertebaran tiada peduli bahwasanya sang pemilik sedang menunggunya kembali
Kerapuhan hidupnya tak mungkin terungkap oleh sepasang belati nan tumpul maupun pedang setajam cintamu
Kedip matanya,
tak mampu aku mencari mungkin ada yang sama,
tak mungkin aku menemukan mungkin ada yang sama
Rapuh,
namun memberikan semangat tak mungkin sama dengan yang lain,
tak akan pernah lagi seperti saat itu
Raut wajah nan selalu berikan rasa ingin selalu dipeluknya,
tak mampu aku bendung perasaan itu,
tak mungkin aku mampu menolaknya

Selalu memberikan ketegasan tiada aku bisa memahaminya

Haru melihatnya selalu sendiri
Tubuhku terlalu mungil untuk membelanya kala itu
Hatiku selalu mengecil saat ia duka
Perasaanku selalu mengobarkan pedang saat ia terlukai

Selalu percaya kepadaku,
walaupun tak bisa penuhi permintaanya
Tak mampu kala itu menyentuh untuk melukaiku
selalu saja sentuhan hangat membubuhi kesedihanku
Kayu rapuh menghiasi pondasi perasaanya
Terdapat hewan-hewan kecil merayapi, 
menggusur kehidupanya
Lambat laun, mungkin tiada lagi tersisa,
mungkin hanya sebatas hidup dan ketika menjelang matinya
Tiadakah rayap-rayap itu sejenak berfikir,
bahwasanya kayu rapuh pun masih berhak untuk hidup,
bahwasanya kayu rapuh pun memiliki nilai yang dapat kita petik kala ia masih bugar
Ah, mungkin memang sudah takdir . . .

Balas tak ada waktu baginya diberikan
Biarkan sajalah makhluk Tuhan itu melakukan tugasnya
Pekikmu tak membuat mereka goyah
Tangismu belum mampu berikan mereka sedih

Setitik pesan mungkin sudah terhempaskan ke dahan sejenismu
Tuliskan berapa umurmu saat perasaan hambar itu muncul
Berikan sedikit gertakan kepada mereka gundahmu saat itu
Terselip ingatan dibalik kumuhnya hari-hari itu
Terlihat betapa deras jeritan pencakar hatinya
Setiap garis tergambarkan betapa rapuh perasaanya saat itu
Pedang kusut pun masih mampu menembus benteng pertahananya

Kala malam mennyapa air matanya,
sinarnya rembulan berikan hiburan sejenak
Bintang-bintang berlomba mengedipkan sinarnya,
berusaha menunjukkan semua akan baik-baik saja
mereka memang yang terbaik
tiada lelah berkedip walaupun tiada menyadari
bulan nan begitu indah tak pula lelah menunjukkan keromantisanya

Sayatan-sayatan pedang dan cakar tak mungkin terasa
Namun sayang, hanya sebatas malam, rembulan menunjukkan romantismenya
hanya sebatas malam, bintang-bintang mampu berlomba untuk mengedipkan ketegasanya
selain itu, usalah mengharap lebih dari luka hati
Wajahnya tidak kusut, hanya diam tak ada sapa yang bisa aku jelaskan
Mereka tidak mengerti arah mana yang harus ditempuh untuk mengalihkan perhatian
Sepertinya sulit untuk hanya membuka sekecup bibir,
kedipan matan sebenarnya sudah cukup untuk melihat tawanya
Tapi masih, tidak kusut . .
Kenapa mereka tidak kusut . .?
Tidakkah mereka mampu membuat senyum . .?
Mungkin senyum terlalu hina untuknya
Mungkin senyum merupakan simbol kehancuran baginya,
mungkin baginya senyum adalah simbol kehancuran bagi perjalananya
Mungkin mereka mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui . . !
Ah . . . dasar . .!
Tidakkah mereka mengerti bahwa perjalanan masih panjang ?
Tidakkah mereka memahami maksud dari kehidupan ?
Mungkin aku yang terlalu mempertanyakan keberadaanya,
Sudahlah . .. 

Tapi mengapa mereka tidak kusut !
Senyum kalian membuatku terpukau !
Senyum kalian membuatku hambarkan suasana kelam !

Kalian muncul hanya pada saat keramaian menyapaku
Kalian tidak menghiraukanku saat aku membutuhkan kalian
Padahal, kalian tinggal di dalamku
Tidakkah kalian diajarkan kewajiban untuk saling menghargai . .?
Datang dan pergi seenak kalian,
seperti kalian tak takut melihat kesedihanku