puing tangismu tak lagi tersisa untukku sembuhkan
entah mengapa begitu cepat,
hanya Tuhan Yang Maha Tahu atas segala kebiadaban kita
sadar akan bahaya yang akan menebas pasukan,
hanya pedang serabut kita siapkan untuk membunuh
tiada bunyi nan sepoi daripada suara anggunmu
pergilah engkau kepadanya
usah kau teriakan namaku lagi
curilah hatiku saat ajal menjemputku
ambilah sebilah luka yang telah aku pikul untukmu
rebahkan jiwaku diatas kebahagiaan hati . .
kelak . ..
dan sampai kau mati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar