Kamis, 31 Mei 2012

Suku Aceh


Suku Aceh
Suku Aceh adalah nama sebuah suku yang mendiami ujung utara Sumatra. Mereka beragama Islam. Bahasa yang dipertuturkan oleh mereka adalah bahasa Aceh yang masih berkerabat dengan bahasa Mon Khmer (wilayah Champa). Bahasa Aceh merupakan bagian dari bahasa Melayu-Polynesia barat, cabang dari keluarga bahasa Austronesia.

Suku Aceh memiliki sejarah panjang tentang kegemilangan sebuah kerajaan Islam hingga perjuangan atas penaklukan kolonial Hindia Belanda.

Banyak dari budaya Aceh yang menyerap budaya Hindu India, dimana kosakata bahasa Aceh banyak yang berbahasa Sanskerta. Suku Aceh merupakan suku di Indonesia yang pertama memeluk agama Islam dan mendirikan kerajaan Islam. Masyarakat Aceh mayoritas bekerja sebagai petani, pekerja tambang, dan nelayan.

Sejarah
Penduduk Aceh merupakan keturunan berbagai suku, kaum, dan bangsa. Leluhur orang Aceh berasal dari Semenanjung Malaysia, Cham, Cochin, Kamboja.

Di samping itu banyak pula keturunan bangsa asing di tanah Aceh, bangsa Arab dan India dikenal erat hubungannya pasca penyebaran agama Islam di tanah Aceh. Bangsa Arab yang datang ke Aceh banyak yang berasal dari provinsi Hadramaut (Negeri Yaman), dibuktikan dengan marga-marga mereka al-Aydrus, al-Habsyi, al-Attas, al-Kathiri, Badjubier, Sungkar, Bawazier dan lain lain, yang semuanya merupakan marga marga bangsa Arab asal Yaman. Mereka datang sebagai ulama dan berdagang. Saat ini banyak dari mereka yang sudah kawin campur dengan penduduk asli Aceh, dan menghilangkan nama marganya.

Sedangkan bangsa India kebanyakan dari Gujarat dan Tamil. Dapat dibuktikan dengan penampilan wajah bangsa Aceh, serta variasi makanan (kari), dan juga warisan kebudayaan Hindu Tua (nama-nama desa yang diambil dari bahasa Hindi, contoh: Indra Puri). Keturunan India dapat ditemukan tersebar di seluruh Aceh. Karena letak geografis yang berdekatan maka keturunan India cukup dominan di Aceh.

Pedagang pedagang Tiongkok juga pernah memiliki hubungan yang erat dengan bangsa Aceh, dibuktikan dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho, yang pernah singgah dan menghadiahi Aceh dengan sebuah lonceng besar, yang sekarang dikenal dengan nama Lonceng Cakra Donya, tersimpan di Banda Aceh. Semenjak saat itu hubungan dagang antara Aceh dan Tiongkok cukup mesra, dan pelaut-pelaut Tiongkok pun menjadikan Aceh sebagai pelabuhan transit utama sebelum melanjutkan pelayarannya ke Eropa.


Selain itu juga banyak keturunan bangsa Persia (Iran/Afghan) dan Turki, mereka pernah datang atas undangan Kerajaan Aceh untuk menjadi ulama, pedagang senjata, pelatih prajurit dan serdadu perang kerajaan Aceh, dan saat ini keturunan keturunan mereka kebanyakan tersebar di wilayah Aceh Besar. Hingga saat ini bangsa Aceh sangat menyukai nama-nama warisan Persia dan Turki. Bahkan sebutan Banda, dalam nama kota Banda Aceh pun adalah warisan bangsa Persia (Bandar arti: pelabuhan).
Di samping itu ada pula keturunan bangsa Portugis, di wilayah Kuala Daya, Lam No (pesisir barat Aceh). Mereka adalah keturunan dari pelaut-pelaut Portugis di bawah pimpinan nakhoda Kapten Pinto, yang berlayar hendak menuju Malaka (Malaysia), dan sempat singgah dan berdagang di wilayah Lam No, dan sebagian besar di antara mereka tetap tinggal dan menetap di Lam No. Sejarah mencatat peristiwa ini terjadi antara tahun 1492-1511, pada saat itu Lam No di bawah kekuasaan kerajaan kecil Lam No, pimpinan Raja Meureuhom Daya. Hingga saat ini masih dapat dilihat keturunan mereka yang masih memiliki profil wajah Eropa yang masih kental.

Tarian
Tari Ranup Lampuan
Tari Seudati
Tari Rateb Meuseukat
Tari Likok Pulo

Bahasa
Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Aceh

Makanan Khas
Kuah Masam Keu'eueng
Kuah Pliëk u
Kuah Beulangong
Kuah Lada
Kuah Sie Kamèng
Masak Mirah
Masak Puteh
Mie Aceh
Keumamah
Bu Guri
Bu Leumak
Sie Reuboh

Kue-kue dan Kudapan
Keukarah
Timphan
Meuseukat
Halua
Cingkhuy (kue khas Lam No)
Kuwéh Seupét
Kuwah Tuhe
Kanji Rumbi
Boh Usen
Bhoi
Sagon
Dodoi (dodol)
Dughok/Lughok
Apam
Pulot
Seulincah Aceh (rujak Aceh)
Adè
Apam
Boh Rom-rom

Tokoh
Badruddin Amiruldin
Cik Di Tiro
Cut Nyak Dhien
Cut Nyak Meutia
Daud Beureu'eh
Hasan Tiro
Ismail al-Asyi
Mohamad Kasim Arifin
P.Ramlee atau Teuku Zakaria Teuku Nyak Puteh
Panglima Polem
Sultan Iskandar Muda
Tan Sri Sanusi Juned
Teuku Mohammad Hasan
Teuku Nyak Arief
Teuku Umar

Senin, 28 Mei 2012

Jangan Letih Memberi Maaf


merindumu bagai suasana keheningan
yang mengalir begitu saja
jatuh bangun hanya diriMu yang terkenang
dalam benak fikir dan hati
yang selalu saja menjerumuskan diri dalam kemurkaanMu.

merasa Engkau kasihi adalah hal terbaik,
dan paling sombong yang bisa menyejukkan kehancuran jiwaku
walaupun mungkin disana Engkau punya rencana lain,
toh hanya Kau yang aku perdulikan
bukan lain-lain yang Kau ciptakan.

sulitkah untuk orang-orang mengertikan semua itu?
aku mendapat cibiran akan penghambaanku kepadaMu,
tapi mungkin mereka benar juga,
toh aku masih selalu mengingkari janji-janjiku padaMu.

sehingga Engkaupun, Maha Pengampun
masih ragu akan rinduku kepadaMu.

Ilmu (3)


terdapat ilmu,
dimana hanya seorang itu yang mampu memahami
dan bagaimana untuk menerapkanya
namun juga mereka masih bingung
mencari prinsip yang layak
dijadikan acuan
dan guru seumur mereka menampung ilmu itu.

entah dari Tuhan atau menemukanya di jalanan,
karena ilmunya cukup terurai tak rapi
semrawut merekah hampa
ditalang meneduh untuk kemesraan sementara.

Ilmu, Jeritan Hati (2)


Jeritan hati,
kubangan air tawar
menawarkan rahasia air
yang memiliki rasa, tawar
namun tidak akan tawar lagi pabila
air itu keluar dari sarangnya,
layaknya ilmu yang hanya secuil diambil, demi secuil diambil
dan tidak mengambil saripatinya
langsung dari sarangnya.

SeruanMu


seruMu jelas terdengar oleh telinga-telinga ciptaanMu
nyiur, nyaring terdengar
petirpun tak ku dengar ketika menangkap seruan-seruanMu itu

terekam keindahanya
jelas dalam batin, menyejukkan hati
terkoyak kemurkaan jiwa yang menggrogoti.

tiada makhluk lain yang mampu hanya untuk meniru
meskipun hanya sebutir darinya,
sungguh murni,
karena memang Engkaulah Maha Sempurna.

namun semua itu sirna
kala hatiku tak lagi khusyu' memperdengarkanMu,
sangking lalainya
sangking bodohnya aku sebagai makhluk unggulanMu

tolong, janganlah memberi kemudahan apapun,
bersikaplah seperti biasa,
seperti biasa aku Engkau buat tersedu dalam renungan malam
seperti biasa aku mendapat murkaMu.

Ilmu (1)


terdapat ilmu,
dimana hanya seorang itu yang mampu memahami
dan bagaimana untuk menerapkanya
namun juga mereka masih bingung
mencari prinsip yang layak
dijadikan acuan
dan guru seumur mereka menampung ilmu itu.

entah dari Tuhan atau menemukanya di jalanan,
karena ilmunya cukup terurai tak rapi
semrawut merekah hampa
ditalang meneduh untuk kemesraan sementara.

Untitled


maaf,
aku selalu melupakanMu
ketika dunia sedang menunjukkan keindahanya
aku tahu itu adalah Engkau
yang sedang menunjukkan kasih sayangMu,
ingin melihat betapa aku menyayangiMu,
ketahuilah,
aku manusia biasa
yang selalu luput dari penciptanya
bahkan ketika mendapat pengasihan yang sebenarnya.

entah ketenangan seperti apalagi
keharmonisan rupa siapa lagi
yang aku butuhkan
untuk terus dan menerus mengenangMu,
mengingatMu.

selalu ada tumpahan murka yang aku lihat dariku,
melilit kemesraanku ketika mengingatMu,
ketika bercengkrama asik denganMu.

Kesempatan


Sudikah kau jemput aku dalam kelamku
Masihkah engkau berkenan untuk menatapku
Benarkah kau masih mampu beri suasana seperti dahulu
Aku merindukanmu
Kau telah aku beri goresan yang tak mungkin hilang
Maafkanlah aku
Kembalilah untukku
Kembalilah untuk kebersamaan kita lagi
Untuk meluruskan apa yang telah membelok
Aku masih mampu
Begitu pula dirimu
Kita mampu lakukan semua yang kita ingin saat bersama
Berilah aku kesempatan untuk mengulang semua kebahagiaan itu

Jeritan Hati


Jeritan hati,
jeritan semenanjung hati
puncak jiwa dimadu oleh serbuk cintaMu
dan kasih sayangMu, mengarungi tiap sudut
batinku mendengkur, mengucap namaMu.

Jeritan hati,
uraikan kisah cinta antara Kau dan aku,
uraian air mata menyongsong cahaya kasih sayangMu
mendekap hampa pada tiang nan rapuh
jenuh menyisipkan kepiluan
untuk segera menemuiMu.

Jeritan hati,
menelusuri tiap kekosongan duniaMu
kekuasaanMu nan megah ini,
sendiri memadu kisah hanya cinta dan kasih sayangMu
yang mampu membuat batin ini merengkuh hidup
untuk meneruskan hidup
menyenangkan sang hati,
sang ruh, sang cahayaMu
walau hanya secuil
aku mampu menyinariNya.

Jeritan hati,
sejati membual bersama makhluk ciptaanMu
pecundangi ciptaan-ciptaanMu
demi sebuah kesenangan, kehancuran
kesombongan yang tiada henti
terus dan menerus menusuk jantung cahayaMu

Jeritan hati,
masihkah Engkau peduli dengan semua,
masihkah Engkau memberi kesempatan atas semua ini,
masihkah semua ini menjadi yang diujung para prajurit perang
atau sudah menjadi bahan cemoohan . . .

KeberadaanMu


seandainya aku mampu meneguk cinta suciMu
mungkin sekarang juga aku tidak akan seperti saat ini,
aku terkapar tak bias dengan kebiasaan-kebiasaan ini
dimana diriMu susah untuk aku temui,
namun banyak waktu pula aku mampu menemuiMu
mungkinkah itu diriMu?
aku selalu bertanya seperti itu.

Engkau sangat pandai dalam berpura
menggunakan wajah wajah makhluk ciptaanMu sendiri
hanya untuk menyapaku.

Engkau terdapat dimana-mana aku berpijar,
langit dan bumi adalah kekuasaanMu,
tiadalah aku berkutik ketika sadar akan hal itu
dan aku selalu sadar bahwasanya diriMu ada
dimana-mana . .

Kepada YTH


beritahukan kepada mereka
yang selalu mengusik fikiranmu,
bahwasanya manusia tidak lekang dari
sifat depresi yang melulu-lantakkan
mara jiwa dan raga yang sesungguhnya
sudah terlalu pilu untuk sebuah terpaan angin sepoi saja.

berikan peringatan tegas kepada penguasa mereka
bahwasanya udara yang dihirup hanyalah
yang dimiliki sebagai aktivitas keseharian,
untuk menyambung nyawa
dan itupun tidak ada dosa sama sekali.

beritahukan kepada prajurit-prajuritnya untuk membunuh kami
hanya pada saat kelakuan kami
membuat bumi pertiwi menangis
dan ciptaanNya merengkuh pilu
dalam kesepian nan tiada yang menyuguh canda.

berikan peringatan tegas kepada jenis-jenis kita semua,
ketika kita hidup di dunia tidak lagi sendiri
dan banyak lain yang membuat gaduh disekitarmu,
janganlah menggonggong anjing kelaparan, tak beradab.

lihatlah pergulatan masing-masing dalam mengarung lautan dunia fana ini,
penuh krikil, tinta hitam berserakan disetiap pojok kota kota berjulang menara.

Kekasihku


kekasih yang selalu menjadi dambaanku
adalah dia
yang mampu mengertikan redup nampak kesenanganku
dan kesedihan yang tak henti menyelimuti
yang mampu aku duakan ketika aku ingin,
dan aku ingin selalu menduakan pasangan ketika
makhluk lain menjadi pendampingku,

dia berwajahkan sedu ketika senang
dan riang ketika sedih menghantam,
memberi segala kenikmatan yang ada
menampung keluh kesa yang berupa maupun tidak.

bagai surya yang tak henti bersinar, walaupun malam menjemput
tak hentinya ia akan terus memperhatikan setiap rinduku
setiap kasih sayang dan kesetiaan yang aku berikan,
walaupun kalimat tak lagi mampu dipergunakan untuk menjelma
menjadi puisi sanjungan.

menggeliat mesra ketika bercinta,
cumbu setiap hendusan cintaku yang tersirat disetiap gerakku,
nafasku, dan hidupku.

berkobar ketika aku terperanjat oleh cibiran,
menantang sang maut ketika jurang neraka menghampiri,
karena hanya kepadaNya ia ingin bertemu
dan bukan karena ttakut akan neraka jahanam ia ingin mencari ridhoNya.

ia yang senantiasa sabar ketika waktu
tak lagi cukup untuk aku berikan ketika aku sedang asyik mendua,
tiada dengki maupun amarah sedikitpun
ketika aku terlalu lelah memperhatikanya,
tiada sombong maupun iri

karena hanya kepadaNya,
sang pencipta dari kekasih itu
yang aku inginkan

Kerendahan Hati kah


Jeritan hati,
merintih kesal
atas semua yang terjadi
karena terlalu pilu untuk dihadapi
dan hanya Engkau
entah siapa Engkau dan
tak tahu pula di mana Engkau
yang aku miliki.

Andaikan jeritan hati ini Engkau dengar,
pastilah, mungkin
Engkau sudi untuk semenit saja menghirauku
namun Engkau tampak acuh denganku, tidak
terkadang sulit untuk meminta maaf
ketahuilah,
cintamu terlalu dalam
dan aku hanya ciptaanMu
semata wayang terjerumus
dalam kelabu petang nan sunyi dunia ciptaanMu ini.

Jeritan hati,
kerendehan hati yang seperti apa
yang bisa meluluhkan hatiMu,
karena sekarang aku tidak yakin ada kerendahan hati
yang bisa melebihi semua ini,
dan aku hanya manusia ciptaanMu
yang payah serapah kesusahan
hanya untuk mencuri
sedetik saja, seuntai bungan lily dalam mimpi

semoga aku salah,
dan Engkau akan sudi untuk turun tangan memberiku
sejenak waktu untuk memandangi cahayaMu.

Kidung Manusia


kidung pergulatan hari-hari
yang semakin melelahkan,
telah melulu-lantakkan saja kobaran
jiwa dan raga yang berbuas siap menerka
kemanapun angin membawa.

fikiran tak bisa terkonsentrasi kepada satu tujuan,
terlihat kabur tak jelas
samar, membendung harapan besar.

bukan tidak memiliki tujuan mauupun prinsip dalam hidup, hanya
terlalu banyak ilmu yang sudah termakan,
sehingga meleburkan sebuah keinginan
untuk berhijrah kepada lainya
dan hanya bertutur pada diri.

harapan besar itu adalah
sampai kepada tujuan hidup, sebenarnya
yang terniang dalam benak mereka itu apa
sehingga nampak malaikat baik baik saja, yang melekat
disampingya . .

cukup melelahkan, berjuang demi sesuatu yang besar
namun tak seorangpun bisa dan mampu
mengerti,
ah semua manusia sejujurnya tak bisa saling mengerti . .
kan?

Lalu Aku Akan Pergi


tidak terbayangkan kalau kalau
reruntuhan puing puing tangismu menindih
padaku, sayang . .

sudah lama kita bercinta dengan kebohongan ini,
tiada yang benar dalam hubungan ini,
semua hanya kosong,
tak terkira juga kalau saja
tangismu membuatku jenuh dengan kebohongan ini.

bersandarla disisiku, entah sampai kapan
pundak ini mampu menampung keluh
kesahmu
yang selalu kau ungsikan dalam gerah tangis itu.

sejak kapan pula
engkau mulai membelai kasih yang aku beri selama ini,
aku kira dirimu tak pelaknya dari penucri,
pembohong pecundang rasa.

biarkan kucumbu kening mungilmu itu,sayang,
sebentar
sejenak
lalu aku akan mengertikanmu
dan membelai kasih bersama, bukan
duniamu
tapi gemuruh malu semilir syahdu ini . .

Dimana Selama Ini


Jeritan hati,
kamu terlalu bingung dengan hidup
yang kau sendiri menganggapnya rumit
serumit benang yang melejit kesusahan untuk diambil tengah-tengahnya,
hanya omong kosong yang kau berikan
dan mengabaikan suara merdu kala rembulan
bercahaya menyinari kerumunan orang-orang suci
sedang berdo'a agar diberi ridhoNya.

Melewatkan Waktu


memandang langit-langit, sejuk
senyap sekejap mengingat wajahmu, cantik
teringat setiap momen-momen bersama, manis
dulu kita yakin bahwa tiada satupun yang mampu memisahkan, namun dulu
cumbumu nan lembut, menguras air mataku
mengatakan betapa setianya dirimu, namun dulu
nyiurnya angin, sepoi menghampiri kesendirian detik-detik menegangkan ini
tidak lagi bisa tersenyum dengan semua itu, telah hilang
entah kemana senyum itu pergi, mungkin mati
hanya diam, menghuni kepedihan
bak awan terkatung oleh angin, melayang diatas langit
tertatih berjalan mengarungi lautan dunia, nan rusuh ini
kehilangan seorang penjaga hati, penenang emosi

Bolehkah MerinduMu


anehkah,
ketika hanya diriMu yang aku dambakan?
kudengar banyak cibiran dan ocehan
menganggap aku gila
karena mengharapkanMu,
itu sama saja dengan hanya bermimpi, kata mereka.

sudikah Engkau menjawab ini,
sudikah Engkau aku agungkan,
mungkinkah aku sudah cukup mahir dalam mengertikanMu
sampai aku merindukanMu.

MendekapMu (jeritan hati)



Jeritan hati,
manusiaMu membunuhi semua makhlukMu
namun tiada Engkau membinasakan saja perangai mereka,
cinta apakah yang Kamu mainkan, Pencipta?

Jeritan hati,
kasih sayang yang seperti apa
yang bias kami suguhkan sehingga murkamu tak tampak
ataukah hanya kami saja yang terlalu murka atasmu
sehingga Engkau membutakan penglihatan kami?

Jeritan hati,
hatiku mengaung untuk secarik keadilan,
namun percuma kan
karena Engkau Maha Adil,
hanya ciptaanMu saja yang terkadang hilang akal
sehingga hancurlah bumi pertiwi ini
menjadi serpihan kotor.

Jeritan hati,
Pencipta . .
rindu ini mengais banyak waktuku
habis hanya untukMu,
tiadakah dalam buku takdirku
terdapat sebatas kata saja
dimana aku mampu untuk berkabung
dengan yang lain
sehingga nampaklah kepada mata rabun ini
kasih sayang yang benar,

Jeritan hati,
ah jangan . .
aku menikmati apa yang sedang Kau perlakukan kepadaku sekarang ini,
aku rindu, dibalik riang senyum
aku merintih tangis rindu, dibalik riang senyum
aku memohon agar cintamu hinggap dalam dekapku, dibalik kesombongan
aku . .
sungguh merindukanMu
walau hati, batin dan jiwa sedang carut marut
bertaruh nyawa demi murkaMu . .
aku . .
tidak ingin Engkau dekap,
hanya ingin mendekapmu, erat dan tak mungkin akan pernah aku melepaskanya

menangiskan butiran air mata berwajah puisi rindu
dan cinta dan kasih sayang
yang selama ini aku pendam,
biarkan aku mendekapMu . .

SeruanNya


seruanya bagai paduan suara suara
yang tak pernah aku perdengarkan
selama hayat hidup menjumpai,
selama telinga-telingaku sejauh ini masih berfungsi.

kalimat-kalimat yang terlalu merdu,
terlalu manis dirasa
dan diingat sekalipun.

belum mampu juga aku mengertikanNya,
karenanNya terlalu sempurna untuk makhluk selaknat aku
memperdengarkan seruanNya.

SinggahsanaMu


dimanakah tempat paling nyaman
kalau bukan lagi tempat dimana Engkau singgah, Tuhan
serambiMu pasti dipenuhi dengan bunga
yang belum pernah kami jumpai
dengan berbagai macam warna, rupa
dan bau yang menyejukkan hati
merapikan jiwa
sehingga ragupun tak mungkin hinggap.

dimana Engkau bersinggah, disitulah aku akan berteduh, Tuhan
berkeluh kesah aku dengan setiap coretan kasar ini
mengharap hatiku bisa mengertikan sejenak, sedikit
bahwasanya jiwaku masih terlalu kotor untuk hanya menghirup
sedapnya bunga di serambi rumahMu,
terlalu murka untuk hanya melewatinya,
bahkan untuk memikirkanya.

Merasa Menjadi HambaMu


kadang aku senang karena merasa dekat denganMu
kadang aku senang karena merasa Engkau membalas rinduku
kadang aku senang karena merasa mendapat ridhoMu
yang semuanya sangat sempurna,
ketika aku mampu memberi sedikit usaha
untuk beristikomah, meneruskan semua penghambaanku.

namun semua hanya mampu aku merasakan,
tidak mengetahui kebenaranya

aku bahkan tidak tahu menahu siapakah aku dikalangan ciptaanMu
tak seorangpun mampu aku mengertikan
kecuali makhluk makhluk yang tidak biasa kami makhlukkan,
lebih mudah untuk mengertikan keberadaan mereka daripada yang lainya,

makhlukMu terlalu asing dimataku, apalagi Engkau,
Sang Pencipta dari semua pencipta.

PendambaMu


terpejam mata hati
bergusar dengan kekeliuran
menyangkal nyangkal artian dunia,
yang memang membingungkan.

banyak mengatakan dunia akan berakhir sebentar lagi
karena terlalu banyak orang jahat,
menikam dari samping kanan kiri
dari dalam hati masing-masing.

Tuhan menunjukkan kebesaraNya
dengan mematahkan segala sangkalan tersebut
dengan terus-terusan bermain dengan manusia,
dengan mereka yang berjalan dalam kegelapan, si musrik.

perkataan halus membalut setiap gerah,
yang mencurukan darah tangis
akan siksa dan ketidak mesraan hubunganya
dengan manusia lain,

Tuhan,
kami sedang bergelut dengan takdir, hari-hari yang biasa
Engkau tuliskan di agendaMu,

sudikah Engkau untuk menggoreskan penaMu,
sedikit tentang kemanangan kami,saja . .

Kamis, 24 Mei 2012

Curahan Hati


Engkau yang ada di sana, yang menciptakan kami semua, tatkala ternyata kami memilih untuk mati saja daripada menghendus nafas pengkhianatan. Katakanlah kau tak seperti itu, karena kami sangat merindukan kasih sayang cinta dan sedikit banyak kesetiaan. Kasih sayang, cinta yang senantiasa tebar kebahagiaan seluruh umat manusia. Bagaimana mungkin kami memulai dari diri kami sendiri jikalau saudara saudara kami masih bergelimpang dengan kesengsaraan. Negara sudah tak lagi tempat yang aman. Setiap negara selalu memiliki kebijakan kebijakan picik yang hanya menjerumuskan kami kepada keterpurukan. Kebahagiaan yang selalu menjadi angan-angan, kini berpulang kepada penciptanya dan takut untuk kembali kepada kami. Berjuang tiada henti, merasa belum mendapat setapak cukup jauh dari kebiadaban makhluk disekitar kami. Sejengkalpun kami belum dekat untuk memulai melangkah kepada keharmonisan hidup. Keharuan saja yang ada. Penindasan saja yang ada. Tiadalah kedamaian yang benar dalam dunia ini. Kedamaian, hanya mimpi bagi kami, orang orang bodoh yang hanya menuliskan surat, berkoarkan lisan yang masih berlumuran air susu ibu. Kami nampak seperti orang bodoh saja, menuruti kemauan orang-orang disekitar kami. Kami nampak tolol, tak berkutik menerjang kegilaan yang menebar kehancuran.

Atas dasar itu, kami belum bisa menemukan kesetiaan. Apakah kesetiaan itu, kami tidak mengerti. Kami hanya berlaku sesuai akal, yang dapat kami cerna, bukan perasaan. Nafsu yang selalu menjilat, memaksa perundingan dengan si hati menjadi kacau. Batin berkabung sedih, jiwa bergerak tak memperdulikan sekitarnya, tak perdulikan aturan dunia. Beberapa mengatakan kesetiaan adalah obsesi untuk memiliki sesuatu. Sifat yang berlebihan dalam menyikapi keinginanya. Beberapa lagi mengatakan kesetiaan adalah ketika dirimu dapat menyatu dan hidup hanya untuknya, karenanya, dan hanya kepada dialah tujuan hidupnya. Bukankah itu cinta. Tak mengenal lelah untuk mempertontonkan kepada dunia bahwa dia adalah sang kekkasih, nyawa yang pantas untuk terjaga, yang hanya dia mampulah untuk mengertikan. Menurutku, kesetiaan cukup sampai hati. Karena dunia yang sudah kacau balau. Kalaupun harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk sebuah kesetiaan, mungkin hanya kehancuran yang akan menghampirinya. Toh manusia terkadang terlalu bodoh, sehingga apapun yang ada di depan mata pastilah akan menjadi opsi terakhir dan pertama.

Ambilah contoh dari sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta begitu mesra. Kemanapun mereka mengarungi hidup, hati dan akal selalu berpegang tangan. Semua yang ada selalu terjaga, selalu dijaga. Itu kata mereka. Namun ternyata salah satu, atau bahkan kedua-duanya menyalahi ucapanya sendiri. Hati tak mereka jaga. Setiap menemui seseorang yang baru, orang yang dikiranya mampu untuk mengertikanya lebih, jatuh cintalah mereka, walaupun tak terucap, walaupun hanya sebentar, karena sudah memiliki sang kekasih. Dan mereka masih menyebut bahwa dia adalah sang kekasih, hanya satu.

Akal yang sangat mudah untuk berganti suasana, menjadi bumerang paling mudah yang bisa menghancurkan suasana hati. Seseorang dikatakan cantik, ngganteng sangatlah relatif. Tidak mungkin orang-orang hanya memilih seorang pasangan, karena fisikpun masih dan sangat berpengaruh. Katakan sepasang kekasih tadi bertemu dengan seseorang, atau bahkan teman sendiri yang ternyata secara akal, lebih mumpuni daripada kekasihnya. Mereka tergiur. Mereka terkagum-kagum. Mereka memuji-muji. Mereka mulai menggeser hatinya kepada orang itu walaupun sedikit, karena akal sudah tidak menemukan titik dimana sang kekasih adalah yang terbaik, yang sempurna untuknya, walaupun tiadalah manusia yang sempurna. Bukankah itu sudah bisa dikatakan pengkhianatan. Itu bukanlah kesetiaan.

Ketika mencinta, akal dan hati akan sepenuhnya terkontaminasi seutuhnya hanya untuk yang dicinta, tidak kurang dan selalu berkobar.

Betapa sulitnya ditemukan kesepatakan hanya untuk sebuah istilah konyol ciptaan manusia ini. Betapa susahnya melakukan apa yang terkandung dalam istilah itu, kalau arti dari mereka adalah semua itu. Betapa konyol lagi kalau setiap manusia dengan akal dan hati yang berbeda-beda, memiliki arti masing-masing. Itulah kenapa dunia selalu berkobar dengan kehancuran, peperangan, pengkhianatan. Istilah yang ada namun hati mereka merasa tidak cocok, sehingga mereka membuat istilah lain yang malah menghancurkan. Paling tidak, buatlah istilah yang mampu membuat sekelilingmu merasa aman. Oh tapi tidak, manusia punya akal. Selalu ingin terdepan, walaupun terasa sulit. Mereka membuat dan memilih jenis kompetisi mereka sendiri, dan semua itu terpendam dalam hati. Mereka akan sangat malu untuk mengungkapkanya, karena mereka tidak ingin dikatakan pengkhianat atau tolol. Namun mereka itu picik. Namun mereka patut dikasihani. Mereka menelan realita hidup dan tidak seorangpun peduli maupun menyukainya. Bertambah lagi lah masalah hidup. Dimanakah akhir dari semua cerita ini.

Masyarakat tersebar luas di dunia, memanggil diri mereka sebagai kaum terbaik. Kaum terbaik yang hanya mereka yang mampu dan pantas untuk hidup, sebagai manusia yang layak mendapat penghidupan yang sesuai dengan semestinya. Dimanakah keadilan itu semua. Kami menghentak kaki untuk beranjak pergi, menyingkir saja, namun tak ada asa dari orang-orang lain untuk sekedar menengok ke arah lain dan melapas kami. Tidak! Mereka tidak mencintai kami. Mereka hanya sombong dan terlalu dekil akan pengertian sebuah kasih sayang maupun cinta maupun kesetiaan.

Sebenarnya, apakah arti cinta, kasih sayang itu, wahai sang sumber pengetahuan. Kami mondar mandir mencari-carinya dalam tong dan setiap pojok di sudut-sudut kota, berisi maupun kosong, namun hanya kehampaan yang kami terima. Hanya itu yang mampu kami artikan, yang mampu kami maknai dari yang telah terjadi. Dimanakah letak keharmonisan dalam hidup, jikalau manusia hanya perduli pada diri mereka masing-masing dan manusiapun tercipta dengan cita-cita yang berbeda. Usaha sekeras apapun, sulitlah untuk hidup dalam kedamaian. Cinta tak mengenal sakit, benarkah yang aku percayai itu. Ketika cinta bergentayangan, hanya kemanisan yang terniang dalam kepala. Cinta membutakan lapar dan sakit. Cinta sakit ketika tidak bisa dimengerti. Ketika cinta mengalir, layaknya air di sungai-sungai, nyiur dan mengalir begitu saja. Bebatuan yang nampak besar maupun kerikil yang banyak, hanya halauan yang tak ada artinya untuk dilalui dan air sungaipun tak terluka. Mengalir begitu saja tanpa ada rasa sakit dirasa, hanya ketabahan sesampainya nanti, di kehidupan yang lain, dalam tempat dan wahah yang lebih luas, kebebasan dalam hidup atas kesabaran. Itukah cinta. Aku selalu termenung membayangkan ahli cinta. Seberapa sabar kalau begitu. Seberapa besar keyakinan mereka atas adanya cinta, kalau memang cinta itu seperti air sungai. Sakit namun tidak sakit.

Sakit yang ada hanya ada karena hati yang masih ragu atas makna dari cinta itu sendiri. Keraguan selalu menjadi momok terbesar ketika hal yang ada dan rasa ingin tahu tentangnya tak terlihat oleh mata. Hanya mata hati yang mampu menyapa. Dan karena mata hati itu tak bisa dilihat maupun dirasa, bahkan untuk dipercayai, cinta semakin pudar untuk dilihat dan dipercayai. Kita percaya dengan apa yang kita lihat, itulah manusia pada pengertian paling dasar, jika dilihat dari sisi seberapa yakin kita hidup atas dan untuk sebuah tujuan. Akal sehat maupun tidak, mereka sama saja, terkutuk dan teraniyaya dalam kebingungan atas diri mereka sendiri. Atas dasar “melihat lalu memberi respon”, maka manusia tidak bisa mengerti cinta. Cinta tak terlihat, hanya mampu dirasa dalam hati, dalam batin terdalam. Cinta adalah untuk memberi. Sebuah perasaan hangat yang nampak pada pagi maupun sore hari, ketika tengah malam rembulan dengan wajah malunya membentangkan keharmonisan sang malam. Keindahan mereka nampak jelas, karena akal lah yang kita pakai. Akal, yang hanya mempermainkan otak kita agar tidak berfikir keluar “jalur yang benar”. Akal seharusnya dimaknai lebih dari itu. Akal adalah alat otak untuk mengasahnya agar menajadi lebih dari benda yang hanya bisa diam tak bergerak dan bisu seumur hidupnya.

Cinta tidak meminta, karena cinta adalah keikhlasan mengabdi untuknya. Untuk mengharappun, masih sulit dikatakan arti sebuah cinta. Mengharap, sebuah ungkapan hati untuk mendapat apa yang mereka inginkan. Sedangkan “ingin” adalah suatu unsur yang sangat rakus karena berkaitan dengan nafsu, dan cinta bukan nafsu. Cinta adalah kemesraan air sungai yang mengalir begitu saja. Tidak mengharap, meminta, maupun menghindar dari gangguan-gangguan. Mereka diam dan membisu sepanjang perjalanan menuju wadah yang lebih sempurna dan luas untuk membendung dan mewadahi besarnya jumlah mereka. Itu adalah cinta, diam dan hanya menikmati apa yang ada. Rindu ketika jauh, tersiksa ketika dekat (karena tahu betapa kecilnya wadah untuk kebesaran cinta, dan atas keaslian cinta mereka yang ditakuti akan terkotori oleh polusi nafsu).

Mungkinkah diri ini tak mampu mengerti cinta dan kasih sayang, sehingga hanya mampu bertanya-tanya dan tak menghirau cemoohan. Mungkin memang diri tak mengerti cinta. Kami hanya mampu bertanya dan mempertanyakan jawaban. Begitu terus dan menerus. Cinta tak mengenal sakit, bukan berarti ketika diri dilukai lalu amarah menghampiri dan cinta tak lagi bisa kami jumpai karena amarah yang membludak. Mereka tidak tahu apakah diri mencintai mereka atau tidak, tidaklah mungkin dan tidaklah seharusnya mereka mengatakan diri tidak bisa mengerti cinta dan tak mencintai mereka. Ketika satu hal terjadi, terdapat berbagai macam hal dan alasan yang menjadi latar belakang atas terjadinya apa yang mereka lihat. Diri tak mengerti cinta namun bisa merasakan kehadiran dan kepergianya, ataupun itu cinta maupun bukan cinta.

Perbedaan dalam diri manusia, menjadi tembok yang seharusnya diperhatikan masing-masing individu dalam menyikapi suatu hal, namun satu hal yang konkrit dan pasti adalah makna dari cinta. Makna cinta hanya satu dan tak bisa dipermasalahkan. Wujud cinta, hanya cinta. Atas kemurnian cinta, tidak bisa cinta diwujudkan dalam bentuk selain CINTA itu sendiri. Diri melihat banyak orang memaknai cinta sebagai pelipur lara, benar, namun ketika mereka memaknai cinta sebagai alas dan latar untuk mereka berfoya, itu salah. Cinta adalah tempat untuk beristirahat, untuk menyandarkan segala macam fikiran permasalahan yang selalu merenggut waktu untuk mencintai. Untuk merindukan cinta. Entah cinta akan memberi respon atau tidak, itulah cintamu. Itulah cinta yang selalu dicari. Cinta adalah apa adanya. Cinta adalah mengalir. Cinta adalah sebening pandangan mata normal mampu melihat. Itulah mengapa cinta tak mampu kita lihat, karena kebeningan cinta adalah sebening mata kita memandangi wajah-wajah manusia lain dan dunia ini.

Cinta tak mungkin berkhianat. Cinta mungkin terdapat pada orang yang selama ini kita benci, hanya saja kita terlalu sombong untuk mengakui bahwa itulah cinta. Atas kebodohan, atas nama kebutuhan hidup, kita menggadaikan sebuah kebenaran hakiki, atas nama kehidupan yang sudah semrawut. Cinta tak beralasan, itulah mengapa kita mengatakan seseorang itu adalah pemain cinta. Cinta tidak bisa dipermainkan dan dimainkan, karena kesucianya. Karena kebeninganya. Cinta melebur segala macam suasana hati, hanya ada cinta. Tiada lagi benci maupun dengki. Cinta mungkin cemburu dan dicemburui karena cinta melebur perasaan agar dan untuk terikat denganya. Itulah mengapa banyak percekcokan dan kebencian atas nama cinta. Namun itu bukan salah cinta. Itu adalah salah kita yang terlalu tergesa-gesa dalam memaknai suatu situasi yang kita fikir untuk segera melakukan suatu respon yang dirasa pantas untuk dilakukan, atas nama cinta.