Engkau
yang ada di sana, yang menciptakan kami semua, tatkala ternyata kami
memilih untuk mati saja daripada menghendus nafas pengkhianatan.
Katakanlah kau tak seperti itu,
karena kami sangat merindukan kasih sayang cinta dan sedikit banyak
kesetiaan. Kasih sayang, cinta yang senantiasa tebar
kebahagiaan seluruh umat manusia. Bagaimana mungkin kami memulai dari
diri kami sendiri jikalau saudara saudara kami masih bergelimpang
dengan kesengsaraan. Negara sudah tak lagi tempat yang aman. Setiap
negara selalu memiliki kebijakan kebijakan picik yang hanya
menjerumuskan kami kepada keterpurukan. Kebahagiaan yang selalu
menjadi angan-angan, kini berpulang kepada penciptanya dan takut
untuk kembali kepada kami. Berjuang tiada henti, merasa belum
mendapat setapak cukup jauh dari kebiadaban makhluk disekitar kami.
Sejengkalpun kami belum dekat untuk memulai melangkah kepada
keharmonisan hidup. Keharuan saja
yang ada. Penindasan saja yang ada. Tiadalah kedamaian yang benar
dalam dunia ini. Kedamaian, hanya mimpi bagi kami, orang orang
bodoh yang hanya menuliskan surat, berkoarkan lisan yang masih
berlumuran air susu ibu. Kami nampak seperti orang bodoh saja,
menuruti kemauan orang-orang disekitar kami. Kami nampak tolol, tak
berkutik menerjang kegilaan yang menebar kehancuran.
Atas
dasar itu, kami belum bisa menemukan kesetiaan. Apakah kesetiaan itu,
kami tidak mengerti. Kami hanya berlaku sesuai akal, yang dapat
kami cerna, bukan perasaan. Nafsu yang selalu menjilat, memaksa
perundingan dengan si hati menjadi kacau. Batin berkabung sedih,
jiwa bergerak tak memperdulikan sekitarnya, tak perdulikan aturan
dunia. Beberapa mengatakan kesetiaan adalah obsesi untuk memiliki
sesuatu. Sifat yang berlebihan dalam menyikapi keinginanya. Beberapa
lagi mengatakan kesetiaan adalah ketika dirimu dapat menyatu dan
hidup hanya untuknya, karenanya, dan hanya kepada dialah tujuan
hidupnya. Bukankah itu cinta. Tak
mengenal lelah untuk mempertontonkan kepada dunia bahwa dia adalah
sang kekkasih, nyawa yang pantas untuk terjaga, yang hanya dia
mampulah untuk mengertikan. Menurutku, kesetiaan cukup sampai hati.
Karena dunia yang sudah kacau balau. Kalaupun harus melakukan apa
yang seharusnya dilakukan untuk sebuah kesetiaan, mungkin hanya
kehancuran yang akan menghampirinya. Toh manusia terkadang terlalu
bodoh, sehingga apapun yang ada di depan mata pastilah akan menjadi
opsi terakhir dan pertama.
Ambilah contoh dari sepasang kekasih
yang sedang jatuh cinta begitu mesra. Kemanapun mereka mengarungi
hidup, hati dan akal selalu berpegang tangan. Semua yang ada selalu
terjaga, selalu dijaga. Itu kata mereka. Namun ternyata salah satu,
atau bahkan kedua-duanya menyalahi ucapanya sendiri. Hati tak mereka
jaga. Setiap menemui seseorang yang baru, orang yang dikiranya mampu
untuk mengertikanya lebih, jatuh cintalah mereka, walaupun tak
terucap, walaupun hanya sebentar, karena sudah memiliki sang kekasih.
Dan mereka masih menyebut bahwa dia adalah sang kekasih, hanya satu.
Akal yang sangat mudah untuk
berganti suasana, menjadi bumerang paling mudah yang bisa
menghancurkan suasana hati. Seseorang dikatakan cantik, ngganteng
sangatlah relatif. Tidak mungkin orang-orang hanya memilih seorang
pasangan, karena fisikpun masih dan sangat berpengaruh. Katakan
sepasang kekasih tadi bertemu dengan seseorang, atau bahkan teman
sendiri yang ternyata secara akal, lebih mumpuni daripada kekasihnya.
Mereka tergiur. Mereka terkagum-kagum. Mereka memuji-muji. Mereka
mulai menggeser hatinya kepada orang itu walaupun sedikit, karena
akal sudah tidak menemukan titik dimana sang kekasih adalah yang
terbaik, yang sempurna untuknya, walaupun tiadalah manusia yang
sempurna. Bukankah itu sudah bisa dikatakan pengkhianatan. Itu
bukanlah kesetiaan.
Ketika mencinta, akal dan hati akan
sepenuhnya terkontaminasi seutuhnya hanya untuk yang dicinta, tidak
kurang dan selalu berkobar.
Betapa
sulitnya ditemukan kesepatakan hanya untuk sebuah istilah konyol
ciptaan manusia ini. Betapa susahnya melakukan apa yang terkandung
dalam istilah itu, kalau arti dari mereka adalah semua itu. Betapa
konyol lagi kalau setiap manusia dengan akal dan hati yang
berbeda-beda, memiliki arti masing-masing. Itulah kenapa dunia selalu
berkobar dengan kehancuran, peperangan, pengkhianatan. Istilah yang
ada namun hati mereka merasa tidak cocok, sehingga mereka membuat
istilah lain yang malah menghancurkan. Paling tidak, buatlah istilah
yang mampu membuat sekelilingmu merasa aman. Oh tapi tidak, manusia
punya akal. Selalu ingin terdepan, walaupun terasa sulit. Mereka
membuat dan memilih jenis kompetisi mereka sendiri, dan semua itu
terpendam dalam hati. Mereka akan sangat malu untuk mengungkapkanya,
karena mereka tidak ingin dikatakan pengkhianat atau tolol. Namun
mereka itu picik. Namun mereka patut dikasihani. Mereka menelan
realita hidup dan tidak seorangpun peduli maupun menyukainya.
Bertambah lagi lah masalah hidup. Dimanakah akhir dari semua cerita
ini.
Masyarakat
tersebar luas di dunia, memanggil diri mereka sebagai kaum terbaik.
Kaum terbaik yang hanya mereka yang mampu dan pantas untuk hidup,
sebagai manusia yang layak mendapat penghidupan yang sesuai dengan
semestinya. Dimanakah keadilan itu semua. Kami menghentak kaki untuk
beranjak pergi, menyingkir saja, namun tak ada asa dari orang-orang
lain untuk sekedar menengok ke arah lain dan melapas kami. Tidak!
Mereka tidak mencintai kami. Mereka hanya sombong dan terlalu dekil
akan pengertian sebuah kasih sayang maupun cinta maupun kesetiaan.
Sebenarnya,
apakah arti cinta, kasih sayang itu, wahai sang sumber pengetahuan.
Kami mondar mandir mencari-carinya dalam tong dan setiap pojok di
sudut-sudut kota, berisi maupun kosong, namun hanya kehampaan yang
kami terima. Hanya itu yang mampu kami artikan, yang mampu kami
maknai dari yang telah terjadi. Dimanakah letak keharmonisan dalam
hidup, jikalau manusia hanya perduli pada diri mereka masing-masing
dan manusiapun tercipta dengan cita-cita yang berbeda. Usaha
sekeras apapun, sulitlah untuk hidup dalam kedamaian. Cinta tak
mengenal sakit, benarkah yang aku percayai itu. Ketika cinta
bergentayangan, hanya kemanisan yang terniang dalam kepala. Cinta
membutakan lapar dan sakit. Cinta sakit ketika tidak bisa dimengerti.
Ketika cinta mengalir, layaknya air di sungai-sungai, nyiur dan
mengalir begitu saja. Bebatuan yang nampak besar maupun kerikil yang
banyak, hanya halauan yang tak ada artinya untuk dilalui dan air
sungaipun tak terluka. Mengalir begitu saja tanpa ada rasa sakit
dirasa, hanya ketabahan sesampainya nanti, di kehidupan yang lain,
dalam tempat dan wahah yang lebih luas, kebebasan dalam hidup atas
kesabaran. Itukah cinta. Aku selalu termenung membayangkan ahli
cinta. Seberapa sabar kalau begitu. Seberapa besar keyakinan mereka
atas adanya cinta, kalau memang cinta itu seperti air sungai. Sakit
namun tidak sakit.
Sakit
yang ada hanya ada karena hati yang masih ragu atas makna dari cinta
itu sendiri. Keraguan selalu menjadi momok terbesar ketika hal yang
ada dan rasa ingin tahu tentangnya tak terlihat oleh mata. Hanya mata
hati yang mampu menyapa. Dan karena mata hati itu tak bisa dilihat
maupun dirasa, bahkan untuk dipercayai, cinta semakin pudar untuk
dilihat dan dipercayai. Kita
percaya dengan apa yang kita lihat, itulah manusia pada pengertian
paling dasar, jika dilihat dari sisi seberapa yakin kita hidup atas
dan untuk sebuah tujuan. Akal sehat maupun tidak, mereka sama saja,
terkutuk dan teraniyaya dalam kebingungan atas diri mereka sendiri.
Atas dasar “melihat lalu memberi respon”, maka manusia tidak bisa
mengerti cinta. Cinta tak terlihat, hanya mampu dirasa dalam hati,
dalam batin terdalam. Cinta adalah untuk memberi. Sebuah perasaan
hangat yang nampak pada pagi maupun sore hari, ketika tengah malam
rembulan dengan wajah malunya membentangkan keharmonisan sang malam.
Keindahan mereka nampak jelas, karena akal lah yang kita pakai. Akal,
yang hanya mempermainkan otak kita agar tidak berfikir keluar “jalur
yang benar”. Akal seharusnya dimaknai lebih dari itu. Akal adalah
alat otak untuk mengasahnya agar menajadi lebih dari benda yang hanya
bisa diam tak bergerak dan bisu seumur hidupnya.
Cinta
tidak meminta, karena cinta adalah keikhlasan mengabdi untuknya.
Untuk mengharappun, masih sulit dikatakan arti sebuah cinta.
Mengharap, sebuah ungkapan hati untuk mendapat apa yang mereka
inginkan. Sedangkan “ingin” adalah suatu unsur yang sangat rakus
karena berkaitan dengan nafsu, dan cinta bukan nafsu. Cinta adalah
kemesraan air sungai yang mengalir begitu saja. Tidak mengharap,
meminta, maupun menghindar dari gangguan-gangguan. Mereka diam dan
membisu sepanjang perjalanan menuju wadah yang lebih sempurna dan
luas untuk membendung dan mewadahi besarnya jumlah mereka. Itu adalah
cinta, diam dan hanya menikmati apa yang ada. Rindu ketika
jauh, tersiksa ketika dekat (karena tahu betapa kecilnya wadah untuk
kebesaran cinta, dan atas keaslian cinta mereka yang ditakuti akan
terkotori oleh polusi nafsu).
Mungkinkah
diri ini tak mampu mengerti cinta dan kasih sayang, sehingga hanya
mampu bertanya-tanya dan tak menghirau cemoohan. Mungkin memang diri
tak mengerti cinta. Kami hanya mampu bertanya dan mempertanyakan
jawaban. Begitu terus dan menerus. Cinta tak mengenal sakit, bukan
berarti ketika diri dilukai lalu amarah menghampiri dan cinta tak
lagi bisa kami jumpai karena amarah yang membludak. Mereka tidak tahu
apakah diri mencintai mereka atau tidak, tidaklah mungkin dan
tidaklah seharusnya mereka mengatakan diri tidak bisa mengerti cinta
dan tak mencintai mereka. Ketika satu hal terjadi, terdapat berbagai
macam hal dan alasan yang menjadi latar belakang atas terjadinya apa
yang mereka lihat. Diri tak mengerti cinta namun bisa merasakan
kehadiran dan kepergianya, ataupun itu cinta maupun bukan cinta.
Perbedaan dalam diri manusia,
menjadi tembok yang seharusnya diperhatikan masing-masing individu
dalam menyikapi suatu hal, namun satu hal yang konkrit dan pasti
adalah makna dari cinta. Makna cinta hanya satu dan tak bisa
dipermasalahkan. Wujud cinta, hanya cinta. Atas kemurnian cinta,
tidak bisa cinta diwujudkan dalam bentuk selain CINTA itu sendiri.
Diri melihat banyak orang memaknai cinta sebagai pelipur lara, benar,
namun ketika mereka memaknai cinta sebagai alas dan latar untuk
mereka berfoya, itu salah. Cinta adalah tempat untuk beristirahat,
untuk menyandarkan segala macam fikiran permasalahan yang selalu
merenggut waktu untuk mencintai. Untuk merindukan cinta. Entah cinta
akan memberi respon atau tidak, itulah cintamu. Itulah cinta yang
selalu dicari. Cinta adalah apa adanya. Cinta adalah mengalir. Cinta
adalah sebening pandangan mata normal mampu melihat. Itulah mengapa
cinta tak mampu kita lihat, karena kebeningan cinta adalah sebening
mata kita memandangi wajah-wajah manusia lain dan dunia ini.
Cinta tak mungkin berkhianat. Cinta
mungkin terdapat pada orang yang selama ini kita benci, hanya saja
kita terlalu sombong untuk mengakui bahwa itulah cinta. Atas
kebodohan, atas nama kebutuhan hidup, kita menggadaikan sebuah
kebenaran hakiki, atas nama kehidupan yang sudah semrawut. Cinta tak
beralasan, itulah mengapa kita mengatakan seseorang itu adalah pemain
cinta. Cinta tidak bisa dipermainkan dan dimainkan, karena
kesucianya. Karena kebeninganya. Cinta melebur segala macam suasana
hati, hanya ada cinta. Tiada lagi benci maupun dengki. Cinta mungkin
cemburu dan dicemburui karena cinta melebur perasaan agar dan untuk
terikat denganya. Itulah mengapa banyak percekcokan dan kebencian
atas nama cinta. Namun itu bukan salah cinta. Itu adalah salah kita
yang terlalu tergesa-gesa dalam memaknai suatu situasi yang kita
fikir untuk segera melakukan suatu respon yang dirasa pantas untuk
dilakukan, atas nama cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar